Infocelebes.my.id — Makassar, Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (Harlah) ke-10 Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) secara nasional pada 12 September 2026, jajaran KPBI di Sulawesi Selatan (Sulsel) turut menggelar serangkaian kegiatan reflektif. Dengan mengusung tema “Merawat Persatuan & Memperhebat Perjuangan Kelas Pekerja”, momen ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial, melainkan sebagai momentum untuk mempertegas keberpihakan terhadap nasib kaum buruh.
Secara nasional, KPBI melaksanakan berbagai kegiatan kreatif hingga aksi massa. Di Jakarta dan sekitarnya, digelar KOPDAR BAPOR untuk merawat ingatan kolektif atas perjalanan persatuan dan perjuangan selama satu dekade terakhir. Sementara itu, di Sulsel, para pengurus dan anggota KPBI menekankan pentingnya konsolidasi internal dan eksternal di tengah tantangan ekonomi politik yang masih timpang.
Ketua KPBI Sulsel, Sartono Laodemutu, A.Md, S.H, atau yang akrab disapa Bung Tono, menyatakan bahwa KPBI telah berkembang menjadi serikat buruh dengan masa depan cerah. Ia menegaskan bahwa perayaan Harlah ke-10 ini merupakan refleksi untuk memperkuat posisi tawar kelas pekerja.
“Bukan sekadar merayakan seremoni, tetapi merefleksikan momen ini sebagai kegiatan yang mempertegas keberpihakan perjuangan kelas pekerja secara nasional. Harus diakui bahwa KPBI merupakan serikat pekerja yang perkembangannya luar biasa,” ungkap Sartono saat ditemui awak media.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Departemen Pendidikan dan Propaganda PSBM, Delandi Safri Pratama, menyoroti pentingnya aspek pendidikan bagi anggota serikat. Ia berharap di usia ke-10 ini, program sekolah buruh, pelatihan, dan kaderisasi dapat semakin masif hingga ke basis-basis perusahaan.
“Bagi saya pendidikan itu kunci. Harapan saya, anggota kita tidak hanya kuat di tempat kerja, tapi juga kuat pikiran, paham hak, dan berani bersuara. Terima kasih KPBI sudah 10 tahun jadi guru bagi gerakan buruh. Mari terus belajar, terus mengorganisir, dan terus berjuang bersama!” tegas Delandi.
Sementara itu, Koordinator Perluasan KPBI Sulsel, Arsad Arifin, melihat Harlah KPBI sebagai ruang strategis untuk membangun kesadaran kelas. Menurutnya, ketimpangan ekonomi politik yang belum berpihak pada rakyat memerlukan respons organisasi yang solid.
“HARLAH KPBI bukan sekedar berlalunya waktu atau perayaan rutinitas tahunan. Tapi bagian dari lahirnya perjuangan bersama, membangun kembali kesadaran kelas pekerja atas situasi ketimpangan ekonomi politik yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat,” jelas Arsad.
Ia menambahkan, persatuan politik yang strategis diperlukan untuk mempertegas posisi tawar pekerja di hadapan pengusaha maupun elite borjuasi yang dinilai belum menjawab tuntas persoalan hak-hak pekerja.
Di tengah perayaan ini, KPBI dan aliansinya dikabarkan sedang mempersiapkan konsolidasi besar menjelang Hari Tani Nasional yang akan jatuh pada 24 September 2026. Langkah ini diambil di tengah situasi krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas LPG yang tengah melanda Sulawesi Selatan, yang dinilai semakin memberatkan daya beli dan kehidupan masyarakat serta kaum pekerja.(*)








